google search

Custom Search

Bagaimana BLOG ini??

SEBUAH PERTEMUAN

SEBUAH PERTEMUAN

My dear diary...
Saya masih ingat suasana saat itu,
ketika kehidupan memberikan warnanya kepada kami,
ketika kehidupan membawa kami keluar dari labirin yang tak berujung.
Aku masih ingat saat itu,
saat malaikat yang membawa takdir mempertemukan kami berdua,
dalam suatu ikatan persahabatan yang suci,
yang tidak akan lekang oleh aliran waktu.
Aku masih ingat yang terjadi saat itu,
saat mata kami tidak sengaja saling melirik satu samalain,
saat udara kehampaan THE AIR OF NOTHINGNESS,
membawa kebebasan dalam hidup kami, disitulah kisah kami dimulai.
Aku masih ingat semua di waktu itu,
dan tidak akan melupakan semua di waktu itu.


Aku tersentak kaget dari lamunanku, ketika teriakan Ical terdengar begitu keras di telingaku.
“ada apa??”
Waktu itu Ical masih menjabat sebagai ketua osis di salah satu SMA Negeri di kotaku.
“Gini, ada undangan kegiatan dari walikota dan SPAA (Solidaritas Putih Abu-Abu), kegiatan itu berupa Pelatihan Jurnalistik, kamu mau ikut?”
“Tidak usah deh!, kamu beritahukan teman yang lain saja, siapa tahu ada yang minat?”
“ok deh kalo gitu!, tapi kalau masih kekurangan siswa, kamu aja yang gantikan?”
“yup, kita lihat saja nanti!”
Aku kembali larut dalam kesibukanku sendiri, sedangkan Ical masih sibuk mondar-mandir, hilir-mudik layaknya supir angkutan kota yang mengejar waktu demi manghidupi keluarga yang sedang menunggunya dengan sabar di rumah mereka masing-masing. Ical masih mencari siswa yang berminat mengikuti kegiatan itu. Mungkin di pagi itu masing-masing siswa di sekolahku memiliki kesibukannya masing-masing sehingga acara sepenting itu di lewatkan begitu saja.
Pelajaran seni sedang berlangsung di kelasku, aku terusik ketika gulungan kertas tepat mengenai kepalaku.
“aduh, siapa sih?”
Ical mendekatiku pelan-pelan
“kami masih kekurangan orang buat acara itu, kamu saja yang ikut menggantikan?”
Ical tampak serius
“iya deh!, emang acaranya kapan?”
Ical mengambil surat undangan kegiatan di saku celananya
“tanggal 25-28 Februari 2008, kamu harus ikut ya?”
“iya, tapi kalo kamu memaksa nanti saya berubah pikiran lagi!”
“haha, iya deh”
Waktu itu dinas kota sedang gencar-gencarnya mengadakan kegiatan yang berbau jurnalistik

, mungkin untuk mencari bibit jurnalis muda berbakat, sekaligus menanamkan kaidah-kaidah jurnalistik yang baik kepada remaja saat ini, agar nantinya tidak akan terjadi lagi hal-hal yang dapat mencoreng insan pers dan jurnalis.
Kegiatan itu berlangsung di gedung serbaguna dekat pantai lalu dilanjutkan ke acara kunjungan ke kantor media harian terkemuka di hari keduanya. Acara itu terbagi dua tahap karena pesertanya terlalu banyak, tahap pertama dimulai tanggal 25 dan berakhir pada tanggal 26 Februari, sedangkan tahap kedua di mulai tanggal 27 dan berakhir tanggal 28 Februari 2008.

* * *



Dalam lekang waktu...
Tak mampu kubuang rasa yang terlampau dalam
Tak ada kata yang terucap selain namanya
Ia telah hadir berkali-kali dalam imaji panjangku
Dalam lekang waktu...
Dalam lekang waktu yang terus bergulir
Tiada lagi kata sepi dalam imaji hangatku
Karena dialah yang selalu membangun imajiku
Dalam lekang waktu...
Tak akan kulupakan keberadaannya selamanya.


Aku bersikeras untuk mengikuti acara tahap pertama (25-26) karena ada acara keluarga pada tanggal 27 di rumah pamanku. Tapi wajah serius ical yang memaksaku untuk ikut di acara tahap kedua tidak mampu saya tolak, dia ingin agar kami bisa bersama-sama di acara itu. Kami memang sudah lama bersahabat, sering kami saling tolong menolong kalau ada yang mendapat kesulitan, dan kamipun sering kompak dalam segala hal meskipun sifat kami jauh berbeda kayak Frodo bagins dan Samwise gamjie dalam film lord of the ring.
Biarpun berat, tapi akhirnya aku ikut di hari yang sama dengan ical, tapi meskipun begitu dalam hati aku bertanya kepada diriku sendiri “Apakah pilihan yang aku ambil ini sudah tepat?, apakah baik mengorbankan acara keluarga demi acara lain?, tapi.. keduanya sama-sama penting, hidup adalah pilihan, dan saya telah memilih pilihan itu”. Akupun kembali larut dalam aktivitasku.

* * *

Suasana masih terasa sepi ketika aku, Ical, Aswin, Putra, dan Zaki sampai di lokasi kegiatan tersebut. Yang terlihat hanya beberapa siswa dari sekolah lain yang datang mendahului kami. Mungkin kami terlalu bersemangat untuk mengikuti kegiatan itu, sehingga kami datang lebih awal dari jadwal yang telah di tentukan. Kamipun menyempatkan diri berkeliling sejenak.
Waktu menunjukkan pukul 09.30, seluruh peserta dari berbagai SMA Negeri maupun swasta telah berkumpul. Sebelum memulai materi para peserta diminta untuk mengisi absen yang telah disediakan oleh panitia, aku sengaja menulis nama belakangan, entah itu suatu kebetulan saja, tapi hal itu yang membawaku pada cerita selanjutnya.
Kamipun mengambil tempat yang telah disediakan oleh panitia, di depan kami duduk lima orang siswi dari SMA Negeri favorit di kotaku. Dasar Aswin.. dengan cepat dia langsung akrab dengan salah satu siswi SMA favorit itu. Aswin memang memiliki sifat yang agak berbeda dari kami semua. Dia orangnya narsis banget, terlalu percaya diri, dan tidak pemalu, hal itu yang membuatnya bertahan di tengah kerasnya persaingan di era globalisasi sekarang ini, hal itu pula yang membuatnya mudah akrab dengan orang lain.
Materipun dimulai, aku tidak sengaja menjatuhkan pulpenku tepat di bawah salah seorang siswi SMA favorit yang berada di depanku. Aku mengabaikan pulpen itu karena merasa tidak dapat menjangkaunya, tapi kemudian siswi itu mengambil pulpenku, dan mengembalikannya dengan senyuman lembut di wajahnya.
“terima kasih!”
Aku hanya bisa mengucapkan kata itu sambil terdiam kagum menatap senyuman lembut gadis itu, disitulah pertemuan pertamaku dengannya. Gadis yang selalu mengisi tiap imajiku dengan senyuman lembutnya, gadis yang selalu mengisi cerebrum di otakku dengan kehangatan persahabatan yang suci darinya.
Aku menghela nafas sejenak dan melupakannya. Semua kegiatan pada hari pertama yang melelahkan akhirnya selesai juga, panitia acarapun bergegas membagi para peserta menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 12 orang dari sekolah yang berbeda untuk legiatan di hari kedua nanti. Pembagian kelompoknya berdasarkan urutan absen.
Aku kaget sekaligus senang mendapati salah satu anggota kelompokku adalah siswi SMA favorit yang saya lihat sebelumnya, belakangan diketahui siswi itu bernama Ayu.

* * *

My dear dreams in the night...
Mimpi adalah juga residu hari hari,
ketakutan akan apa yang akan terjadi,
yang kadang berubah menjadi pendeteksi masa depan.
Namun hariku masih begitu gelap,
sama saja dengan saat memejamkan mata.
Hingga tidak tahu lagi mana mimpi, dan mana kenyataan.
Mana milik alam sadar dan mana milik alam nirsadar.


Hari kedua acara pelatihan jurnalistik itu bertempat di taman yang berada di pusat kota. Aku melirik jam yang menunjukkan waktu 08.45 tepat. Semua peserta telah berkumpul sesuai dengan kelompok yang telah di bagikan panitia kemarin,
Aku sedikit canggung dengan wajah yang baru ku temui hari ini, setelah beberapa saat bekerja bersama perasaan itupun berubah menjadi ikatan pertemanan yang kompak, kamipun memulai kegiatan.
Setelah kemarin menerima materi seharian, di hari kedua acara itu kami di tuntut untuk mempraktekkan langsung seluruh materi yang telah di berikan.
Membuat mading, membuat buletin, menjadi reporter. Seluruh peserta antusias dalam kegiatan ini, layaknya staff media, seluruh peserta melakukannya dengan serius.
Aku ingat temanku Dian, perawakan wajahnya tampak sedikit serius, tapi dia orangnya baik dan cerdas. Dia berperan sebagai reporter dalam kelompok kami, layaknya mutia hafid reporter Metro TV profesional. Dia mempraktekkan langsung cara mengumpulkan informasi dengan tutur bahasa yang singkat, padat, dan berbobot.
Satu lagi teman kelompokku yang tidak kalah hebatnya, namanya Ayu, wanita yang senyumannya sangat lembut tapi pembawaannya ceria. Dia berperan sebagai sebagai editor buletin, setelah semua informasi dari reporter di kumpulkan, lalu dengan segudang ide kreatifnya dia membuat buletin yang menarik dengan isi yang berbobot.
Kami semua memiliki peran masing-masing yang tidak kalah hebatnya dengan yang lain. Serius dan penuh kekompakan itulah yang membuat kami semakin akrab, akupun semakin dekat dengannya.

* * *

Waktu menunjukkan pukul 13.00 ketika matahari sedikit condong ke barat. Kagiatan praktek pada hari itupun berakhir, seluruh hasil kegiatan peserta dikumpulkan dan di pajang di kantor walikota.
Acarapun di lanjutkan ke sesi terakhir dari seluruh rangkaian acara pada hari itu, yaitu kunjungan ke salah satu kantor media harian terkemuka.
Di sana, kami di izinkan untuk berkeliling dan melihat langsung proses pembuatan media harian, mulai dari proses editing surat kabar, sampai dengan proses pencetakan surat kabar tersebut. Kami juga di izinkan memberi pertanyaan seputar dunia jurnalistik kepada manager dan para staff redaksi media harian tersebut.
Ada kejadian lucu ketika berada di sana. Saat itu aku mengangkat tanganku untuk bertanya, pada saat yang sama Ayu juga mengangkat tangannya untuk bertanya, tapi sayangnya sesi pertanyaan telah di tutup, jadi kami berdua hanya saling melirik satu sama lain dan kemudian tertawa karena keterlambatan kami untuk bertanya.
Kami menghabiskan waktu bersama di kantor media harian itu, manjelajahi tiap ruangan, sampai melihat langsung proses pencetakan surat kabar.
Pukul 17.00 tepat, kunjungan ke kantor media harian itupun berakhir, sekaligus menutup seluruh rangkain kegiatan pelatihan jurnalistik pada hari itu.
Di sore itu kami semua berpisah, akupun berpisah dengannya. Maninggalkan kenangan tersendiri di hati kami masing-masing. Aku masih ingat PIN merah bermotif smile yang kuberikan kepadanya, sekedar simbol kenangan bahwa kami pernah bertemu, bekerja sama, dan menghabiskan waktu bersama.
Di hari itu belum terjadi apa-apa diantara kami. Saat berpisah dengannya dalam hati aku berkata, “inilah pilihanku sejak awal, pilihanku inilah yang membawaku bertemu dengannya, mungkin kisah ini tidak akan berakhir sampai disini saja, mungkin perpisahan ini hanyalah awal dari kisah kami, tapi akan berakhir sampai dimana?, kapan?, dan bagaimana?”
Hanya tuhan yang tahu...

Read more......

JANJI YANG HILANG

Aku terhentak. Saat itu aku merasa sebagai orang paling bodoh di dunia. Ya, mengapa aku tak mengatakannya dari dulu?
Aku melirik sekilas ke arah jam digital yang berpendam muram di dashboard mobil sedan tuaku. Sudah 2 jam aku menempuh perjalanan ini. Hanya berhenti dua kali saat aku makan sedikit roti dan pergi ke belakang. Sisanya aku habiskan di belakang setir dengan keinginan yang menggebu untuk bisa sampai secepatnya. Karena tenggat waktuku adalah nanti malam. Nanti malam, atau tidak selamanya..
Ini adalah janji yang aku dan Delima ucapkan empat tahun yang lalu. Tepatnya, beberapa jam lagi hingga pukul sepuluh malam nanti. Sebuah janji yang kami ucapkan di bawah langit yang diselimuti berjuta bintang, di sebuah cafe di resort perbukitan yang asri di kawasan Malino. Dan ke sanalah tujuanku sekarang.

Aku masih ingat kejadian malam itu secara menditel, seakan-akan kejadian itu baru terjadi kemarin. Aku ingat gaun merah marun klasik yang membuat Delima semakin cantik. Semakin sempurna. Dan aku, semakin tergila-gila padanya. Gaun itu pula yang membuat Delima kedinginan, membuat aku dengan sukarela memberikan jaketku malam itu untuk disampirkan di bahu indahnya. Hal itu juga yang membuatku masuk angin esok harinya, namun bagiku itu tidak masalah.

Aku ingat rona merah muda di pipi gadis cinta pertamaku itu saat aku menyibak rambutnya yang terjatuh menutupi matanya. Aku ingat senyum itu. Senyum yang paling indah. Yang aku tahu, tak akan pernah bisa kulupakan seumur hidupku.

Cafe itu terletak agak jauh dari keramaian, yang justru membuatnya istimewa karena ketenangan yang luar biasa yang melingkupinya. Lokasi itu pulalah yang menyingkirkan polusi cahaya dari kawasan perkotaan yang gemerlap dan menyuguhkan pertunjukan langit malam sejuta bintang yang mempesona.
Delima menggigil pelan. Aku tersenyum, dengan cepat membuka jaketku dan menyampirkannya di bahu Delima. Gadis itu menunduk malu. Saat aku sibak lembut rambut yang menutupi matanya, aku melihat rona merah muda di pipinya yang membuatku semakin mencintainya. Dan ia tersenyum, aku hanya bisa menatapnya dan berkata “Aku mencintaimu...”

Aku ingat Delima membalas tatapanku dengan tajam. Ia kembali tersenyum malu. Aku rasa ia sempat melihat rona di pipiku saat kata-kata yang telah tiga tahun kupendam itu terucap begitu saja di tengah suasana sejuta bintang yang sangat romantis itu.
“Aku mencintaimu,” aku mengucapkannya lagi, “Dan aku ingin bersama kamu, selamanya....”
“Kenapa kamu nggak pernah bilang sama aku sebelumnya?” Delima mulai berkaca-kaca.
Aku menatapnya bingung. Mengapa ia menangis?
“Kamu akan pergi ke Jogja. Besok,” katanya seakan bisa membaca pikiranku, “Dan aku akan tinggal di sini. Sendiri...” ucap Delima sambil terisak.

Aku terhentak. Saat itu aku merasa sebagai orang paling bodoh di dunia. Ya, mengapa aku tak mengatakannya dari dulu? Bukankah aku sudah jatuh cinta padanya bahkan sejak pandangan pertama saat kami tak sengaja saling menatap di acara sekolah?, Mengapa aku harus membuatnya bersedih?, Bukankah aku akan pergi besok dan meninggalkannya di sini, sendiri...?.
“Aku akan kembali,” aku menggenggam tangannya.
Kurasa kami berdua sama-sama terkejut atas kespontananku barusan.
“Tunggu aku. Aku akan kembali.”
Air mata jatuh di pipi Delima, “Dan aku akan menunggu...”

Aku tersenyum menatap langit. Suasana cafe selama empat tahun terakhir sudah banyak berubah. Mungkin, terutama karena dulu aku hanyalah seorang anak SMA yang baru melihat dunia dan kini aku adalah seorang sarjana yang telah memiliki pandangan yang lebih matang mengenai kehidupan. Tapi sebanyak apa pun aku berubah, setegap apa pun tubuhku kini dan selebat apa pun brewok tipis yang kini sedang kupelihara, aku tahu bahwa satu hal tak akan berubah. Rasa cintaku pada Delima. Gadis sejuta bintangku. Yang akan selalu menungguku.

Aku telah datang untukmu, aku tersenyum. Sebentar lagi. Tinggal beberapa menit lagi aku akan bertemu Delima, sang gadis pujaan hatiku. Cinta pertamaku yang kuharap akan menjadi cinta terakhirku pula. Sekali lagi aku tersenyum. Jemariku bermain menelusuri sebuah cincin berlian sederhana yang telah kusiapkan untuk Delima semenjak lama. Aku sudah menunggu dengan sabar. Dan sebentar lagi, kami akan bertemu.

***

Delima memandang keluar jendela, ke arah langit malam. Benar-benar sempurna. Malam sejuta bintang. Persis seperti saat janji itu terucap, empat tahun yang lalu... Delima kembali menatap jam dengan gelisah.
”Ya Tuhan, apakah ia benar-benar akan datang?”

Delima menghela napas. Ia benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia merasa dirinya telah terlalu lama berharap dan bermimpi untuk suatu hari lelaki itu akan kembali datang dan menepati janjinya. Namun, entahlah... Empat tahun sudah, tanpa surat, tanpa kabar.

Delima menghela napas, mencoba menghilangkan perih luka yang menyayat dalam di relung hatinya.
”Pergi, tolong pergi... Ini yang terbaik bagimu. Bagiku. Bagi kita berdua”

Jam berdentang sebelas kali. Tepat di dentangnya yang ke sebelas, Delima merasa beban berat itu telah terangkat dari pundaknya.
”Kini, ia pasti telah pergi...”

Delima mengusap air matanya. Ia menghampiri wastafel dan membasahi mukanya, sekedar berharap air dingin akan menyamarkan sembab di matanya. Setelah mengeringkan wajah dengan handuk, Delima melangkah keluar sambil tersenyum.
Rumah gelap gulita. Semua telah tidur semenjak tadi. Tapi Delima tetap terjaga. Ia harus menunggu. Setidaknya, sampai semua ini berakhir.
“Belum tidur, Sayang?”
Delima tersentak kaget. “Aku habis ke WC,” jawab Delima lirih. Lelaki itu tersenyum.
“Tidur lagi, ya? Besok aku kerja pagi-pagi. Sini.”
Delima merelakan tubuhnya tenggelam dalam rengkuhan hangat lelaki yang kini telah setahun menikahinya. Beberapa saat kemudian, lelaki itu telah pulas terlelap. Namun Delima terus terjaga. Ia terus dihantui kejadian itu. Janji itu.

Delima mendesah. Keputusan telah ia buat. Semoga untuk yang terbaik. Kisah inilah yang kini harus dijalaninya. Kini dia telah menjadi milik orang lain. Sementara jam sepuluh tepat, empat tahun yang lalu, di sebuah cafe outdoor kecil yang menyuguhkan pemandangan sejuta bintang di sebuah bukit di Malino bukanlah kisahnya.
Delima pernah menjadi bagian dari kisah itu.
Namun kini, kisah itu telah hilang.
Hidup harus tetap berjalan.

***

Aku kembali menatap jam. Jam duabelas tepat, aku menutup boks cincin itu dengan kecewa, Delima tak datang, ia tak akan pernah datang. Harusnya aku tahu ini. Ini hanyalah sebuah janji masa kecil saat aku mengalami cinta monyet. Mungkin Delimapun tak pernah menanggapinya dengan serius. Aku harusnya tahu.

Aku kembali masuk ke dalam mobil dan menangis dalam diam.
“Ia tak akan datang. Ia tak akan datang...”
Jam berdentang dua belas kali.
Aku harus pergi.
Ataukah, harus kutunggu besok? Atau lusa? Sebulan? Setahun? Empat tahun lagi?
Atau Selamanya...?. (end)

(cerpen yang saya buat seenaknya..)

Read more......

LIKA-LIKU PERSAHABATAN

Arief, Putra, dan Ical sudah bersahabat sejak lama, mereka sudah bersama sejak SMP, bahkan sampai SMApun mereka tetap terus bersama, mereka saling bekerjasama, kompak dalam segala hal, bahkan jika ada masalah yang menimpa salah satu dari mereka , mereka akan menyelesaikan masalah tersebut secara bersama.
Sampai pada suatu hari di SMAN 09 Mks tempat mereka sekolah kedatangan seorang murid baru pindahan dari Medan yang bernama Wanita Ulfani “sebut saja Nita!”. dan kebetulan murid baru tersebut di tempatkan di kelas mereka bertiga.
Semua mata tertuju ke murid baru tersebut, rambutnya yang panjang, alisnya yang agak tebal, kulitnya yang putih, tubuhnya yang ideal, dan lesung pipinya,”pokoknya perfect banget dech!”. Tanpa diduga-duga malaikat cinta menembakkan panahnya tepat ke hati mereka bertiga.
Arief, Putra, dan Ical jatuh hati kepada si Nita, ketika mereka mengetahui fakta bahwa mereka bertiga menyukai gadis yang sama, persainganpun dimulai, tapi akibat persaingan tersebut membuat mereka bertiga tidak seperti dulu lagi, kekompakan mereka sudah buyar, mereka cuma bersaing memperebutkan hati si Nita tanpa menelusuri lebih jauh tentang pribadi si Nita.

Dua hari kemudian, dengan persiapan yang matang Putra mulai melancarkan aksinya. Dengan berbekal sebuah puisi yang “hmm… pokoknya super ROMANTIS dech!”, Putra berdiri di depan kelas lalu membacakan puisi yang di tujukan kepada si Nita, tapi si Nita tidak berkata apapun, hanya tersenyum malu, “itu tandanya dia menerimaku, he..he..he!!” gumam Putra dalam hati.
Pada saat Istirahat, ical memulai aksinya dengan berbekal sebuah lagu yang dia buat dalam duamalam dengan susah payah hanya untuk si Nita, lalu dia menyanyikannya di depan si Nita. Tapi reaksi si Nita sama seperti yang pertama (hanya diam dan tersenyum malu).
“Teeeng.. Teeeng.. Teeeng” bel yang menandakan waktu pulang sekolahpun berbunyi. Melihat si Nita sedang berjalan sendiri untuk pulang ke rumahnya, Arief lalu melancarkan aksinya, dia samperin si Nita dan mengantarnya pulang dengan motornya. Nach… di perjalanan itulah dia melancarkan aksi yang sebenarnya alias “Nembak si Nita”, tapi reaksi Nita sama dengan yang sebelumnya, tidak merespon.. hanya tersenyum dan berkata “tunggu jawabannya besok”.
Tanpa disangka-sangka akibat dari persaingan tersebut membuat persahabatan mereka bertiga retak, mereka tidak pernah bersama-sama lagi, dan tidak saling bicara.
Keesokan harinya mereka bertiga datang pagi-pagi sekali hanya untuk menunggu jawaban dari si Nita, sesampainya di kelas mereka bertiga saling bertemu, kemidian saling menyindir, dan terjadi perang mulut , “bahkan sampai adu jotos..!!!”.
Karena kesalnya Putra menarik kumis si Ical “aw.. sakit” teriak ical, lalu Ical menendang perut si Arief, kemudian Arief memukul si Putera, untung saja pada saat saat itu ketua kelas teladan, baik, ramah, dan setia kawan yang bernama Suripto datang melerai, dan menasehati mereka bertiga.
Dua menit sebelum bel sekolah berbunyi si Nita akhirnya datang dan mendekati mereka bertiga (siArief, Putra, dan Ical), lalu mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena terlambat mengatakan hal yang sepenting ini.. bahwa dia sudah punya pacar di sekolahnya yang dulu, dan sampai sekarang dia masih berhubungan dengan pacarnya yang di medan.
Mendengar hal tersebut mereka bertiga shock dan terdiam, sampai Suripto datang menghibur mereka dan memberi nasehat kepada mereka bertiga akan pentingnya arti sahabat “bahwa sahabat lebih indah dari apapun (bahkan dari pacaran loch!!!), sahabat juga sebagai tempat berbagi, tempat curhat, dan hanya seorang sahabat sejati yang bisa mengerti akan diri kita yang pacarpun belum tentu mengerti akan kita layaknya seorang sahabat”. Akhirnya mereka kembali bersahabat seperti sedia kala, dan tidak akan membiarkan kejadian seperti itu terulang kembali, sampai akhirnya kelas mereka kedatangan murid baru yang lain.(END)

(cerpen ke duaku yang kontroversial, hehehe)

Read more......

My First Present

“Kriiiiing” jam weker Budi berbunyi, “Budiiii.. ayo bangun nanti kamu telat lagi!!” teriak ibu Budi dengan suara yang lantang, “iya bu… “ jawabnya sambil merapikan tempat tidur.
Dengan mata setengah terpejam Budi lalu berjalan ke kamar mandi, “kayaknya hari ini hari yang spesial!, tapi apa ya??” tanpa memperdulikan hal tersebut Budi lalu melanjutkan mandinya,
“haaaah, segarnya”, sehabis mandi Budi lalu berjalan mengambil sarapan… tapi mata Budi lalu tertuju pada kalender kamarnya, “hari ini tanggal 17 juni, tapi kok… tanggal hari ini di lingkari ya??, kayaknya hari ini ada yang spesial tapi apa ya??, ah.. sudahlah!” ucap Budi dalam hati, tanpa memperdulikan lagi hal itu Budi meneruskan langkahnya ke ruang makan.
“waah… seperti biasa masakan ibu belum ada lawannya!!” ucap Budi sambil tersenyum mengharapkan sesuatu, “allaah…kamu itu pintar sekali menggombal, kamu pasti ingin uang jajanmu di tambah, kan??” jawab ibu sambil membuka dompetnya, “nih… karena ini hari yang spesial saya kasih kamu tambahan uang jajan!!” sambung ibu, “memang ini hari apa bu??” Budi bertanya heran, “masa kamu tidak tahu??, waduh… belum tua sudah pikun, nanti kamu bakalan tahu sendiri. Cepat pakai seragam sekolahmu lalu berangkat ke sekolah” jawab ibu.

Setalah memakai seragam lengkap Budi lalu memanaskan mesin motornya dan mobil ayahnya, “eh… tunggu dulu!!, Buuuuu… Ayah dimana??” teriak budi, “ayahmu lagi keluarkota dengan bosnya!!” sahut ibu, “Ooh… jadi bolehdong saya pakai mobil ayah??” ucap budi dengan muka yang bersinar penuh pengharapan, “iya pakai saja… tapi hati-hati jangan sampai rusak ya??”, “Ok Boooz!!”
Di perjalanan Budi lalu kepikiran dengan ibunya, “aneh!!, tumben ibu meminjamkan saya mobil!, biasanya sampai bersujudpun tidak akan di pinjamkan??, apa mungkin karena hari ini spesial ya??, tapi hari ini hari apa ya??, bodo amat… mau pusingin hal begitu… yang penting saya bisa pakai mobil ini ke sekolah…..”
Sesampainya di sekolah, Budi lalu bergegas menuju ke kelasnya, tapi… keadaan kayaknya lain!, semua teman Budi kayak menjauhinya… , “apa mungkin utangku sama dia belum lunas??, atau gara-gara saya smsan dengan pacarnya??, ah… masa gara-gara begituan aja ngambek” ucap Budi dalam hati. “Budi… sepulang sekolah kamu keruangan ibu??, dan jangan banyak tanya!!” kata ibu Nur Wati (wali kelas Budi) dengan muka agak geram… membuyarkan lamunan Budi.
“teeeeng, teeeeng, teeeeng,” bel istirahatpun berbunyi, “Ical.. ayo kekantin bareng??”, “males!!”, jawab ical singkat. Putra, Edi, dan Faisalpun menjawab hal yang sama.. , “kenapasih dengan mereka semua!!”,
Sambil merenung Budi berjalan-jalan ke taman sekolah, tanpa sengaja dia melihat Wanita Ulfani murid baru pindahan dari Medan sedang duduk sendiri, sejak pertama kedatangan Nita (nama panggilan Wanita Ulfani) Budi sudah menaruh hati kepadanya, tapi karena malu dia belum mengungkapkannya. “sekarang mungkin kesempatan bagus untuk menembaknya!!, tapi kayaknya dia tidak mau pacaran, tapi bagaimana kalo nanti ada oranglain yang nembak dia!” budi berpikir sendiri dalam hati. “ah... lebih baik coba tembak saja”, Budi lalu mendekati Nita… , “hy Nita… kenapa duduk sendiri?, dimana teman-teman yang lain?” tanya Budi. “Cuma pengen sendiri aja!!” jawab Nita, “tidak apa-apakan kalo saya temani kamu disini?, saya juga mau ngomong sesuatu…” sambung Budi, tapi disaat Budi mau nembak si Nita… “teeeeng, teeeeeng, teeeeeng” bel masuk kelaspun berbunyi. “lainkali kita sambung ya??” kata Budi sambil berlari kembali ke kelas.***
“Kriiiiiiiiiiiiiiiing” bel pulang sekolahpun berbunyi, hal yang paling Budi takutkan akhirnya datang juga, dengan sedikit gelisah dan ragu budi berjalan menuju ke ruangan Ibu Nur wati, “kenapa semua teman-teman ikut juga berkumpul di ruangan ibu Nur wati??” gumam Budi dalam hati, “Budi… ayo masuk kemari” kata ibu Nur wati,
“Budi… kamu tahu kesalahanmu??” kata ibu Nur wati lagi, “tidak, Bu…” jawab Budi singkat, “1,2,3..” ibu Nurwati memberi aba-aba, lalu seluruh teman-teman serentak mengucapkan “SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE 17”, “Ooh… ternyata semua orang bersikap aneh karena ini hari ulang tahunku yang ke 17 (my sweet seventeen)” teman-teman lalu mengambil kue lalu melemparkannya ke wajah Budi, Budi cuma ketawa karena senangnya….
Rasa senang Budi tidak cuma sampai di situ saja, tiba-tiba Nita datang dengan membawa sebuah kado untuk Budi, “Waaaaaah… tidak kebayang, saat itu perasaan Budi bagaikan ketiban pohon durian beserta buahnya”. Ternyata Nita juga ingat dengan hari ulang tahunnya yang dia sendiripun lupa!!. Itu juga merupakan “FIRST PRESENT” dari seorang wanita untuknya, dan akhirnya Budi memberanikan diri untuk menembak si Nita…… (END).

(cerpen pertamaku yang di muat di media)

Read more......

PELARIAN CINTA

Aku tak merasa kalah
Dalam penantian ini
Aku hanya merasa lelah
Yang teramat sangat
Setelah mengurung hatiku
Dalam cinta yang tak pernah terjawab

Aku seperti sesusuk duri
Yang tak pernah kusadari
Seberapa dalam meninggalkan perih
Menikmati sakitnya sampai
Tak terasa lagi luka
Telah mengalirkan darah
Begitu dalamnya cinta
Menghujam hingga tak bisa
Kubedakan mana tangis, mana tawa

Dua-duanya telah menjadi satu
Dalam butiran nelangsa
Terbata dalam kata, tertatih dalam jejaknya
Dan tersia-sia tanpa rekah bahagia

Aku mungkin belum kalah
Tapi yang pasti aku mulai kecewa
Membawa kakiku berjalan
Manjauh dari CINTAMU

Perlahan tapi pasti
Tertahan tapi tak punya daya Aku tuk kembali
Aku mungkin telah pergi
Tapi aku tak pernah berlari
Berlari darimu...

Read more......

AKU INGAT CINTA

Aku ingat cinta..
Suara hati dan cita-cita
Suka hati dan harum kasih
Rindu yang menjaga harapan
Mimpi yang menghamilkan masa depan

Apa kabar kekasih..
Masih ingatkah saat pagi menjadi keindahan
Music menjadi lebih berwarna
Lautan menjadi lukisan sejuta maestro???

Kini.., entah dimana kuteriakkan namamu
Menerobos jalan tak jelas tuju
Menghambur mimpi tak berbentuk
Masih ingatkah kamu padaku???

Lihatlah bermilar suaraku
Keruh gemuruh bicara padamu
Tersebar mencarimu
Terpatah mengejarmu
Masihkah kamu mendengarku???

Begitulah..
Di malam-malam seperti ini aku ingat cinta
Sumber gerak-gerikku
Dunia yang menghidupku.^_^

Read more......

ONE

When I Saw You For Love First Time

I Knew You Were The One

You Didn’t Say A Word To Me

But Love Was In The Air

When Her Had By Had Put Me Into Your Mind

From The All My Life Has Change A Again

Now I’ll Never Feel Lonely Again

Cause You Were In My Love

Now Help Can I Explain To You

When I Feel I Sad, When I Went Of You

I Take You For Every Thing And You Should Be

Don’t You Ever Forget

But Love Love You

Love I Know That’s Some Day

Will Soon, You’ll Be, Will Next To Me

Holding Miss Your Tried

So I Will Always Be Your’s

All The We Can Speak Together Now

Remember I Am Here For You

When I Know Your There For Me

When Ever I Want To Be With You

I Just Close My Lie’s Every Tell To Your Will

I See You, I Touch You, I Feel You Like Me

Nothing Can Every Change When I Feel Inside

How Long Must Time Be Far Away From You

I Don’t Know You But, I Know We Are One

Read more......

About Me

My Photo
Suripto Arief B.
Just an oRdinaRymaN^_^!!
View my complete profile

chat BOX..


ShoutMix chat widget

jam dindingQ

Followers

Tracker..

GosuBlogger